You are here
Home > Santai > Keajaiban hasil memberi

Keajaiban hasil memberi

Pada saat saya menulis buku ini, hari Natal sudah dekat. Ia merupakan saat-saat yang paling saya senangi dalam jangka waktu setahun. Untuk menyambut saat yang singkat ini, kita menghitung wang, bukan untuk mengukur tingkat jaminan hidup kita, tetapi untuk memperkira berapa banyak kita dapat memberi. Untuk saat Natal ini kita mencari upaya membuat orang lain bahagia dan mencari kegembiraan kita sendiri dalam kebahagiaan yang mereka nikmati.

Betapa mudahnya pelajaran ini, tetapi betapa mudahnya pula dilupakan.

Hampir sama cepatnya hari berlalu, kita sekali lagi menjadi orang yang menerima, bukan pemberi, yang mengukur kebahagiaan melalui apa yang kita peroleh untuk diri kita. Hanya beberapa hari sebelumnya, kita menilai kehidupan dengan upaya yang kita lakukan untuk menyenangkan orang lain. Secara tiba-tiba kita kembali kepada bisnes praktis dalam bentuk penilaian atas semua tindakan kita, bagaimana semua itu akan membawa keuntungan untuk kita.

Perubahan yang sungguh menyedihkan. Bagaimana kita bisa lupa begitu cepatnya? Memberi adalah satu bentuk perbuatan yang paling indah dan menguntungkan. Keajaibanlah yang mengubah perasaan yang paling berat untuk memberi menjadi tempat kehangatan dan kegembiraan. Pemberian yang tulus, apakah berbentuk wang,  waktu, perhatian, atau yang lainnya, membuka hati kita. Ia memenuhi diri pemberi, dan memberi kehangatan kepada penerima. Sesuatu yang baru terbentuk di tempat yang sebelumnya hampa, tidak berisi apapun.

Hal yang seperti inilah yang hampir selalu terlupakan. Secara naluriah kita membentuk kehidupan kita dengan tujuan untuk memperolah sesuatu. Kita melihat gabungan dari status, wang, penghargaan sebagai cara untuk melindungi diri dan keluarga kita atau sebagai imbalan bagi anggota masyarakat yang bekerja keras. Sedikit demi sedikit kita membangun dinding-dinding  keamanan di sekeliling diri kita, dan kita mulai mengerti hal-hal yang baik dalam kehidupan kita sebagai sesuatu yang bisa hilang. Perbuatan memberi menjadi transaksi ekonomi-apa yang saya berikan, harus dikurangkan dari status atau keadaan diri saya- bahkan pemberian paling kecil pun harus ditimbang di atas neraca kepentingan pribadi.

Bahkan pada saat menolong dan memberikan sesuatu, kita memerlukan balasan dalam bentuk perhatian dan pujian. Dengan demikian hati kita ini benar-benar didasari motivasi pujian yang akan kita terima, bukan dilandasi oleh kegembiraan yang murni dari membuka diri bagi keperluan orang lain. Kita tersekat dalam penjara kepentingan pribadi, dan kita tidak dapat melihat kenyataan bahawa perkembangan dan kebahagiaan yang sebenarnya akan lebih baik dilakukan oleh perbuatan yang sebelumnya kita tolak untuk melakukannya.

Satu-satunya cara untuk menghancurkan penjara ini ialah dengan menebar pertolongan dan pemberian.

Pada tiap peringatan Natal saya selalu menyewa pakaian Santa Claus lalu pergi ke jalanan, untuk sekadar menjaga pelajaran ini tetap baru. Dalam pakaian Santa Claus itu, tidak ada nada getar kepura-puraan sekecil apapun untuk memperoleh keselamatan atau keuntungan peribadi. Tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa adanya saya. Saya tidak lain adalah Santa Claus, orang yang hanya memberi.

Saya memasuki gedung perawatan orang jompo, sekolah dasar, rumah sakit. Saya berhenti dan berbincang dengan anak-anak kecil di tempat-tempat parker dan membawa hadiah untuk mereka yang memerlukannya. Para orangtua memberi saya surat-surat singkat dan membuat permohonan, beberapa di antaranya meminta saya menegaskan kembali kepada anak mereka akan keberadaan Santa Claus, sebahagian lain hanya menginginkan saya supaya memperhatikan anak mereka.

Pada suatu kali, sebuah keluarga Yahudi menggamit tangan saya dan meminta supaya saya berbicara dengan anak lelaki mereka yang masih kecil. Dia itu hanya satu-satunya anak orang Yahudi di sekolah taman kanak-kanak. Menurut perkiraan anak tersebut, Santa Claus tidak memperdulikannya sebab dia itu orang Yahudi sehingga dia ketakutan ketika Santa Claus masuk ke kamarnya. Saya duduk dengannya bersama keluarganya, lalu kami berbicara tentang Hanukkah dan pemberian. Pada akhir perbincangan kami, dia memeluk saya dan berkata bahawa dia tidak akan merasa takut lagi. Hal ini barangkali merupakan ajaran ke-Tuhanan yang aneh, tetapi merupakan ajaran tentang kemanusiaan yang baik.

Dengan menjadi Santa Claus, saya harus mengeluarkan wang, menghabiskan waktu dan kesedihan yang besar. Pada suatu kali, dua orang anak melanggar lampu tanda berhenti lalu keretanya melanggar kereta saya, dan saya tidak dapat berbuat apa-apa sebab bagaimana mungkin Santa Claus memaksa minta ganti rugi menjelang Hari Peringatan Natal? Tetapi meskipun mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan,saya tidak akan berhenti berpura-pura menjadi Santa Claus, apapun alasannya. Saya menerima terlalu banyak balasan kebaikan.

Orang-orang yang titik perhatiannya dipusatkan untuk selalu menerima, tidak akan pernah memahami hal ini. Mereka mungkin mengira bahawa apa yang saya kerjakan mesti mendapat pujian. Bahkan mereka mungkin berkata, “Apa yang anda lakukan pasti membuat anda merasa bahagia,” Yang tidak mereka mengerti ialah bahawa apa yang saya kerjakan itu jauh di atas perasaan bahagia, ia mencipta kebaikan. Ia membawa kebaikan ke dalam kehidupan kalau sebelumnya kebaikan tersebut tidak ada di sana.

Memberi adalah perbuatan yang sifatnya memberi dorongan. Apabila anda pasrah diri anda, sesuatu yang baru akan terwujud. Dua orang, yang beberapa saat sebelumnya terperangkap dalam dua kehidupan yang terpisah kerana masalah pribadi, tiba-tiba saja saling bertemu dalam pekerjaan yang sama-sama mereka lakukan; kehangatan, bahkan kegembiraan, tercipta. Dunia menjadi luas, sedikit kebaikan diciptakan, maka keajaiban kecil pun terjadi.

Anda seharusnya tidak pernah boleh memandang kecil keajaiban ini. Terlalu banyak orang baik berpendapat bahawa mereka harus menjadi Ibu Theresa atau Albert Schweitzer, atau bahkan Santa Claus dan harus melakukan pekerjaan-pekerjaan besar kalau mereka ingin menjadi pemberi. Mereka tidak melihat peluang  sederhana dari hati yang dapat dipraktikkan di mana saja dengan hampir semua orang.

Cubalah untuk diri anda sendiri. Lakukanlah dengan cara sederhana saja, kalau anda suka. Sapalah sesaorang yang tidak dipedulikan oleh setiap orang. Pergilah berkunjung kerumah tetangga dan tawarkanlah kesediaan anda membantu memotong rumput. Tolonglah orang yang kenderaannya pancit.

Atau cubalah bertindak sedikit lebih jauh. Belilah karangan bunga dan hantarkanlah kerumah orang tua-tua. Keluarkanlah wang sepuluh dolar dari saku, lalu berikan kepada pengemis di jalanan. Lakukan ini sambil tersenyum dengan langkah ringan. Jangan terkesan ada rasa kasihan, jangan terdengar suara kasar dari seorang dermawan. Berikan saja, senyum, lalu tinggalkan.

Sedikit demi sedikit anda akan mulai memahami keajaiban itu. Anda akan mulai dapat menyelami hati manusia yang terbuka, akan melihat senyuman yang tulus dari kebahagiaan manusia dan akan mampu melihat kemanusiaan di tempat-tempat yang belum pernah anda melihatnya. Dengan perlahan-lahan secara naluriah, anda akan mulai merasakan kesamaan di antara kita, bukan apa yang memisahkan dan membedakan kita.

Tidak lama setelah itu anda akan mengetahui bahawa kita ini memiliki kekuatan untuk menciptakan kegembiraan dan kebahagiaan melalui kepudulian dan kasih saying yang paling sederhana.

Anda akan mengetahui kita memiliki kekuatan untuk membuka kebaikan yang ada dalam hati orang lain dengan jalan menebar kebaikan yang ada dalam hati kita.

Dan, yang paling penting lagi, anda akan menjumpai para pemberi lain yang berhati baik. Tidak masalah di manapun anda tinggal, atau kemana saja anda bepergian, apakah berbicara dengan bahasa mereka atau mengetahui nama mereka, anda akan mengenal mereka dan menjadi satu dengan mereka kerana kalian akan saling mengenal. Anda akan melihat mereka dalam perbuatan-perbuatan kecil mereka, sebab anda akan mengenali perbuatan-perbuatan tersebut, dan mereka akan melihat anda dalam perbuatan yang anda lakukan. Kalian akan saling mengenal dan saling menghargai. Anda akan jadi bagian dari komuniti kemanusiaan yang saling percaya dan saling berbagi serta berani menggungkapkan kelembutan hati masing-masing.

Setelah anda menjadi seorang pemberi, maka anda tidak akan pernah merasa sendirian lagi.

 

TULISAN KENT NERBURN: Pesan Seorang Ayah Kepada Puteranya.

 

Leave a Reply

Top